”Ho, jadi kau masih memiliki teman?” tanya Sammon ketika mendengar namaku kusebut. Dia tampak mencari ke setiap penjuru. ”Dimana dia sekarang? Kutebak dia sudah tertangkap oleh pihak keamanan kota ini atau sudah kabur meninggalkanmu.”
”L! Apa yang kau lakukan?” lagi-lagi Badut berteriak memanggil namaku. Baiklah, bagaimanapun ini tugas pertamaku. Walaupun aku harus menghadapi temanku sendiri, aku akan melakukannya demi Groudon. Sekarang saatnya aku untuk muncul.
”Sandslash, Galian!” aku memerintahkan Sandslash melakukan galian dengan cepat. Sandslash pun menggali cepat dan tiba-tiba saja muncul dari bawah Porygon2. Lantai di bawah Porygon2 hancur sementara Porygon2 terpental jatuh terkena pukulan Sandslash. Bersamaan dengan itu aku melompat ke dalam ruangan.
”Aku disini, L!”
”L?” Sammon tampak terkejut melihat kehadiranku. Meskipun aku sudah memakai penutup wajah, tapi tampaknya dia masih mengenaliku.
”Sekarang serahkan penelitianmu itu. Penelitianmu itu akan berguna bila berada di tangan kami, Tim Magma,” bentakku kasar, walaupun sebenarnya agak takut dan itu tercermin dari suaraku yang bergetar.
”L? Sepertinya kita pernah bertemu.... apa aku mengenalmu?” tanya Sammon tak menggubris perintahku.
”Tidak! Aku baru pertama kali datang ke kota ini dan juga baru pertama kali melihat wajahmu,” sanggahku. ”Dan terus terang saja aku juga baru pertama kali melihat Porygon2,” sambungku tak penting. Aku benar-benar kehilangan kata-kata di depan Sammon.
Mendengar itu Sammon hanya tersenyum kecil. ”Baiklah, terserah apa katamu. Bagaimanapun Porygon2 milikku sudah tak bisa bertarung lagi. Sekarang silakan bila kau mau mengambil hasil penelitianku.”
Aku terperangah mendengarnya. Kenapa dia tiba-tiba bisa menyerahkan hasil penelitiannya begitu saja? Bukankah tadi dia berupaya keras mempertahankannya? Apa mungkin....
”Kalau kau bersikap seperti ini dari tadi, kami pasti tidak akan menggunakan cara kasar,” sahut Badut. ”Sekarang serahkan penelitian itu pada kami. Kami berjanji akan menggunakannya dengan sangat baik.”
”Oke, aku percaya kalian akan menggunakannya dengan baik. Kalian Tim Magma bukan?” ujar Sammon. ”Kudengar kalian berupaya membangkitkan Groudon. Baik-baik, kuharap temanku ada bersama kalian. Dialah yang memintaku untuk melakukan penelitian ini, walaupun dia tampak tak serius saat memintanya....”
Aku terkejut mendengarnya. Apakah teman yang dia maksud itu adalah....
”Cepat serahkan, jangan banyak omong!” bentak Badut.
”Kau ini bodoh atau apa sih? Kau telah melumpuhkanku dengan gelombang petir, sekarang mana mungkin aku bisa bergerak?” elak Sammon.
”Kalau begitu katakan dimana kau menyimpannya, biar aku yang mengambilnya,” perintahku pelan. Entah kenapa aku tiba-tiba saja berkata dengan pelan dan tenang.
”Aha! Itu ide yang bagus,” sahut Sammon, lagi-lagi tak terlihat ketakutan sama sekali. ”Sebentar, biar kuingat dimana aku menyimpannya. Aku ini sudah mulai gampang lupa.”
”Cepat katakan! Apa kau mau mengulur-ulur waktu sampai polisi datang!” Badut kembali membentak. Tampaknya dia sudah tidak sabar dan mungkin itu dikarenakan kekesalannya setelah Electabuzz terkena statik.
“Baik, baik, sabarlah sedikit....” Sammon berusaha menggerakkan tangannya dengan susah payah. ”Kau tahu lemari besi yang ada di sudut itu?” tanya Sammon menunjukkan jari telunjuknya dengan susah payah ke salah satu sudut ruangan. Kami berdua mengangguk setelah tahu tempat yang dia maksudkan. ”Benda yang kalian cari ada di dalam lemari itu. Kode lemari itu adalah 1807,” lanjut Sammon.
1807? Entah kenapa aku merasa kode itu terdengar familiar....
Aku serta merta menuju ke lemari besi yang dimaksud dan kemudian memasukkan kode yang diminta. Sekali lagi aku berpikir sejenak saat memasukkan kode yang terdengar tak asing itu. Pintu lemari besi pun terbuka dan di dalamnya kulihat sebuah peti kayu. Kuambil peti kayu tersebut dan kubuka untuk melihatnya sekilas. Tampak sebuah batu fosil yang aneh.
”Kau yakin benda ini yang sedang kau teliti?” tanyaku.
Sammon mengangguk. ”Ya, benda itulah yang sedang kuteliti. Kusebut itu sebagai upaya rekonstruksi Groudon.”
Setelah mendengar jawaban itu, aku segera menutup peti kayu itu kembali. Tak ada waktu untuk menanyakannya lebih lanjut atau petugas keamanan akan segera datang dan menangkap kami. ”Badut, ayo kita pergi!” ujarku pada Badut.
Badut mengangguk mengiyakan. Dia lalu menoleh ke arah Sammon dan menatapnya tajam. ”Awas kalau kau membohongi kami!” ancamnya. Sammon hanya tersenyum mendengar ancaman itu.
Aku dan Badut berjalan menuju jendela laboratorium tempat kami keluar tadi. Tapi sebelum keluar, aku menoleh ke arah Sammon. Dia juga melihat ke arahku. ”Terima kasih banyak,” ujarku padanya. Diam-diam kulemparkan obat anti lumpuh ke arahnya.
”Tak apa-apa....datanglah lain kali,” sahutnya. Sekali lagi aku benar-benar heran dengan ucapan Sammon. Entah mengapa sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan dari setiap gelagatnya. Apakah Sammon tahu kalau aku ini adalah Lunar, teman sekolahnya dulu?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Anda sopan, Sandslash pun segan...