SELAMAT MEMBACA!!!

Protected by Copyscape plagiarism checker - duplicate content and unique article detection software.

Kini blog ini fokus menayangkan fanfic Pokemon terpopuler di Indonesia, Servada Chronicles karangan L. Maulana atau yang akrab dipanggil Elite Four L.

PERHATIAN!
Sebagian gambar dan materi dalam blog ini diambil dari internet sementara sebagian lagi murni buatan Elite Four L. Elite Four L tidak akan mengklaim materi yang bukan miliknya. Dilarang mengkopi artikel dalam blog ini tanpa izin dari Elite Four L. Terima kasih.

Nama-nama dan karakter Pokemon adalah hak cipta dari Nintendo, GameFreak, Creatures Inc., dan Pokemon Company. Servada Chronicles adalah hak cipta L. Maulana / Elite Four L.

Selasa, 16 Februari 2010

L's Diary: Eps. 36 - Penjara Pokemon

wooper gifEpisode 36: Penjara Pokemon


Rupanya cahaya itu berasal dari sebuah bangunan tua yang ada di tengah hutan. Bangunan itu tampak tak terurus terlihat dari dinding-dindingnya yang telah retak dan lumut yang menempel serta rerumputan yang menutupi sekitar bangunan tersebut. Dan menurut peta yang diberikan Badut, bangunan itu adalah penjara Pokemon.

”Sepertinya gedung itu kosong,” celetuk Flame sambil melihat ke sekeliling bangunan tua itu dari balik semak belukar.

”Mungkin saja, tapi kata Badut penjara Pokemon dijaga oleh dua orang penjaga yang misterius. Mereka sering berpatroli keliling penjara. Kita tidak tahu sedang berada dimana mereka sekarang,” sahutku.

”Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?”

Aku berpikir sejenak. Sebelumnya aku sudah menyusun rencana untuk masuk ke dalam penjara itu. Tapi aku tak menyangka kalau penjara ini benar-benar mengerikan sehingga aku sendiri merasa tak yakin dengan rencanaku.

Tak lama, sesosok tubuh keluar dari dalam bangunan tua itu. Sosok itu tampak mengenakan tudung hitam. Entah mengapa aku merasakan sesuatu yang tak menyenangkan dari sosok tersebut. Apakah sosok tersebut manusia?

”Lakukan sesuai rencana,” perintahku pada Flame.

Flame mengangguk. Dia hampir saja memerintahkan Mightyena miliknya untuk menyerang penjaga itu saat sosok lain keluar dari bangunan itu. Melihat itu Flame langsung mengurungkan niatnya. ”Sekarang bagaimana?” tanyanya bingung.

”Ini bagus, kedua penjaga tersebut ada diluar. Kita akan masuk ke dalam penjara melalui sisi samping yang berbatasan langsung dengan rimbunan pepohonan. Mereka tidak akan menyadari keberadaan kita.”

Aku dan Flame kemudian mengendap-endap menuju sisi samping penjara tersebut. Penjara tersebut ternyata memiliki ukuran yang cukup besar dan cukup panjang. Kami sekarang telah berada di samping tembok penjara, namun kami bingung akan memulai darimana. Akhirnya aku pun memutuskan untuk memulai.

”Sandslash, galian!” Kuperintahkan Sandslash untuk menggali tanah di di depan tembok penjara itu agar menghubungkan kami dengan bagian dalam penjara. Lama Sandslash menggali di dalam tanah hingga dia kemudian muncul kembali dari dalam tanah. Sandslash memberikan isyarat kalau di dalam sana aman untuk dimasuki. Mengetahui hal itu, kami kemudian merangkak masuk melalui lubang galian yang telah dibuat oleh Sandslash. Setelah susah payah merangkak di dalam tanah, kami muncul di sebuah ruangan yang gelap dan dingin namun luas. Sepertinya kami telah masuk ke dalam penjara Pokemon.

Flame segera menyalakan senter Magmanya dan dengan segera kami bisa melihat apa yang ada di dalam ruangan yang luas tersebut. Di dalam ruangan sangat banyak jeruji sel yang mengurung Pokemon. Sel-sel tersebut tampak terbuat dari bahan khusus sehingga sulit untuk dihancurkan oleh Pokemon. Kulihat beberapa Pokemon yang dikurung di dalam sel tersebut terkejut dengan kedatangan kami. Beberapa di antara mereka mengeluarkan suara-suara menampakkan perasaan tidak suka karena terganggu oleh kedatangan kami. Aku berharap mereka tidak membuat keributan lebih dari itu sehingga kedua penjaga tidak mengetahui kedatangan kami.



”Kita harus segera mencari dimana Flareon sebelum penjaga tahu,” bisikku pada Flame.

”Iya, aku sedang mencari,” sahut Flame pelan. Flame tampak mengarahkan senter magmanya ke setiap sel yang ditemuinya. Dia lalu memerintahkan Mightyena untuk mengendus bau Flareon.

Beberapa Pokemon di dalam sel itu bisa aku kenali sementara beberapa Pokemon lainnya belum pernah aku lihat seperti Pokemon yang menyerupai pohon dan memiliki kepala tiga dan Pokemon seperti badak berwarna ungu dan tubuhnya penuh dengan duri-duri yang besar. Pokemon-pokemon itu terlihat garang, namun ada juga yang terlihat sedih. Aku membayangkan bagaimana mereka bisa hidup di tempat yang sangat tidak menyenagkan seperti ini. Mereka pasti ingin hidup bebas di alam liar bersama teman-temannya. Aku lalu berpikir kalau penjara Pokemon ini adalah sebuah kejahatan terhadap Pokemon.

Flame terus mencari dengan senternya sementara aku mengikuti di belakangnya sembari berjaga-jaga. Lama Flame mencari dan semakin lama dia mencari, semakin cemas perasaanku. Aku takut kedua penjaga tersebut kembali masuk ke dalam penjara dan berpatroli keliling lorong-lorong penjara yang sempit ini.

Tiba-tiba Mightyena bereaksi. Rupanya dia mencium bau Flareon. Mengetahui hal itu Flame langsung menghampiri Mightyena. Diarahkannya senter magma ke sel tersebut dan tampak seekor Pokemon menyerupai Eevee namun yang ini memiliki bulu lebat di leher dan kepalanya serta tubuhnya berwarna merah menyala. Jadi Pokemon itu adalah Flareon?

Flame mengarahkan senternya ke papan sel tersebut dan pada papan nama itu tertulis kata Flame’s Flareon. Flareon yang ada di dalam sel itu benar-benar milik Flame.

”Flareon, akhirnya aku menemukanmu,” ujar Flame lembut sembari menatap Flareon yang tertidur. Flareon itu kemudian terbangun menyadari ada orang di depannya. Dia menyeringai mengerikan dan tampaknya marah. ”Tenang Flareon, ini aku... Flame. Apa kau lupa padaku?” ujar Flame melihat reaksi Flareon.

Flareon lalu terdiam. Dia mengamati Flame dengan seksama. Tiba-tiba saja dia mengeluarkan semburan api ke arah Flame. Beruntung aku terlebih dulu menyadarinya dan langsung mendorong Flame menghindar. Kami berdua terjatuh ke lantai namun Flame langsung bangkit dan menatap Flareon tajam.

”Ini aku....Flame...temanmu dulu....apa kau lupa?” ujar Flame dengan suara bergetar. Tampaknya dia sangat sedih.

Flareon diam saja. Dia lagi-lagi menyemburkan api ke arah Flame. Aku hendak menarik tubuh Flame tapi Flame mencegah.

”Jangan cegah aku L, biarkan aku sejenak melihat wajahnya....” ujarnya getir. Tampak air matanya jatuh menetes memunculkan cahaya perak akibat terimbas cahaya senter. ”Aku ingin....aku ingin....melihat Flareon....bahkan bila aku harus terbakar karenanya....”

Aku tersentak kaget. Flame? Setulus itukah rasa sayangmu pada Flareon?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anda sopan, Sandslash pun segan...