”Tempat yang ditentukan adalah sebuah pulau kecil di antara kota Lilycove dan kota Mossdeep,” ujar Tabitha padaku dan juga Brodie yang ada di dalam helikopter. ”Kita semua akan turun untuk melakukan pertukaran. Tim Aqua bisa saja curang, karena itu kita harus berhati-hati.”
”Kau tak perlu khawatir Tabitha,” sahut Brodie dengan santai, ”kalau mengikuti rencanaku, tak ada yang perlu dikhawatirkan.”
”Aku tetap khawatir Brodie,” jawab Tabitha menolak ucapan Brodie. ”Selama Flame belum berhasil kita selamatkan, aku tetap khawatir.”
Aku diam saja selama di dalam helikopter. Aku tak tahu harus berkata apa karena aku merasa sangat bersalah atas penculikan Flame. Meski begitu aku mencoba optimis untuk bisa menyelamatkan Flame.
Aku bangkit dari tempat dudukku dan berjalan ke bilik tempat Kyogre diletakkan. Kulihat sebuah aquarium yang berukuran lumayan besar dengan enam buah roda pada bagian bawahnya. Kyogre ada di dalam aquarium itu, tengah tertidur dan tampaknya takkan bangun. Sebuah lingkaran besi membelit mulut, sirip dan ekornya, memastikan Kyogre tak akan bergerak atau memberontak. Aku masih saja kagum melihat Pokemon legendaris Hoenn itu walaupun sebenarnya....
*
Helikopter kami telah mencapai pulau yang telah ditentukan. Pulau itu adalah sebuah pulau kecil tak berpenghuni. Setelah mendarat, kami bertiga keluar dari helikopter sambil membawa aquarium berisi Kyogre.
Kami menanti kedatangan Tim Aqua karena ternyata mereka belum ada di tempat yang dijanjikan. Sepertinya Tim Aqua terlambat datang.
”Apa mereka tak berminat dengan Kyogre ini?” tanya Brodie heran karena Tim Aqua belum juga muncul.
”Kurasa tidak, Pokemon inilah yang selama ini mereka cari-cari. Mungkin mereka sedang ada masalah di perjalanan,” terka Tabitha.
”Baiklah, kita hanya menunggu.”
Tak lama kami menunggu, sebuah kapal motor berukuran sedang datang dan merapat pada bibir pantai pulau itu. Tampak bendera biru dengan lambang Tim Aqua pada kapal itu. Yang kami tunggu telah datang.
Setelah kapal merapat, tiga orang anggota Tim Aqua – salah seorangnya adalah Aaron – keluar dari dalam kapal dengan mengawal seorang perempuan berseragam Tim Magma. Flame-kah itu? Entahlah, kepalanya ditutup tudung seragam sehingga hanya menampakkan sedikit rambut merahnya. Kedua tangan sosok yang kuduga sebagai Flame itu tampak saling terkait di belakang tubuhnya dan tampaknya Flame diborgol.
”Akhirnya datang juga,” ujar Brodie menirukan salah satu judul acara televisi yang pernah disiarkan di sebuah televisi swasta. Bukan, dia tidak menirukan judul tersebut, melainkan dia bereaksi melihat kedatangan Tim Aqua dengan Flame.
””Maaf membuat kalian menunggu,” ujar Aaron setelah mereka semua berjarak kira-kira sepuluh meter dari kami bertiga. ”Ada sedikit masalah yang tidak terduga.”
”Permintaan maaf diterima,” sahut Tabitha. ”Lebih baik kita segera melakukan pertukaran ini dan segera pergi. Aku tak mau berlama-lama melihat kalian ada disini.”
”Baiklah, kita lihat apa kita sama-sama membawa barang yang akan ditukarkan,” kata Aaron.
Barang? Kurang ajar sekali dia menyebut Flame sebagai barang! Tapi aku harus menahan diriku, aku tak bisa berang begitu saja, takutnya pertukaran ini malah jadi sia-sia.
”Kami membawa Kyogre, seperti yang kalian pesan,” ujar Tabitha dengan menunjukkan aquarium berisi Kyogre pada Tim Aqua. ”Lalu apakah kalian membawa Flame?”
”Ya, tentu saja,” jawab Aaron. “Lihat saja perempuan bodoh ini, apakah tidak terlihat seperti rekan kalian?” Aaron menunjuk pada sosok berseragam Tim Magma yang bersamanya.
”Aku ingin mendengar suaranya,” kataku tiba-tiba. Entah mengapa aku mengatakan hal itu, mungkin karena aku meragukan sosok di depanku itu. ”Dan kenapa wajahnya ditutupi?”
”Oh, kau yang mengalahkanku di gua dasar laut waktu itu,” sahut Aaron. ”Sayangnya temanmu ini tidak bisa mengeluarkan suaranya karena mulutnya kami lakban agar dia tidak berisik selama dalam perjalanan disini. Kami juga tidak mengizinkan kalian melihat wajahnya karena kami tak ingin kalian emosi dan langsung menyerang kami apabila kalian melihat wajahnya yang penuh luka setelah kami hajar tadi.”
”APA?” aku terkejut. ”Be...berani-beraninya kau!”
”Sudahlah, tak usah diambil pusing, kita sudah sama-sama melihat bukan?”
”Kau kurang ajar! Awas kalau terjadi sesuatu dengan Flame, aku akan membunuh kalian semua!” ancam Brodie ikut marah.
”Sudahlah Brodie,” Tabitha menenangkan. ”Bagaimanapun Flame ada di tangan mereka, kita tidak bisa berbuat macam-macam. Saat ini keselamatan Flame lebih utama.”
”Nah, Admin kita ini sepertinya lebih bijak dari yang lainnya,” ledek Aaron. ”Baiklah, mari kita selesaikan pertukaran ini. Aku telah melihat Kyogre dan aku yakin itu memang Kyogre. Mana mungkin Tim Magma susah payah ke gua laut hanya untuk menangkap sampah?”
”Kami juga meyakini kalian membawa Flame,” jawab Tabitha. ”Untuk apa kalian menyimpan teman kami itu lama-lama? Kurasa hal itu hanya akan merepotkan untuk kalian.”
”Oke, kita sama-sama setuju,” sahut Aaron. ”Kita mulai sekarang. Dalam hitungan ketiga, kita sama-sama maju dan saling memberikan barang. Setuju?”
”Setuju.”
”Satu...” Aaron memberi aba-aba. Tabitha dan Brodie melangkah mendekati Tim Aqua sambil mendorong aquarium tersebut sementara dua orang grunt Tim Aqua juga mendekati mereka berdua dengan mengawal Flame. “Dua...” pada hitungan kedua kedua pihak yang akan melakukan pertukaran sudah saling mendekat dan akhirnya... ”Tiga!” Bersamaan dengan hitungan ketiga, Tabitha dan Brodie mendorong aquarium berisi Kyogre ke arah Tim Aqua demikian pula sebaliknya dua orang grunt Tim Aqua mendorong Flame ke arah Tabitha dan Brodie.
”Haha... sudah selesai,” ujar Aaron saat dua orang grunt telah mendapatkan aquarium berisi Kyogre dan membawanya mendekatinya. Aaron tampak memeriksa Kyogre tersebut dan yakin kalau yang ada di dalamnya adalah asli. ”Tak kusangka Kyogre berukuran sebesar ini. Beruntung kalian membawanya dengan aquarium ini, tak kusangka kalian begitu perhatian dengannya.”
Tabitha dan Brodie tak menyahut. Tabitha sendiri langsung memeluk Flame saat Flame didorong oleh dua orang grunt tersebut. ”Flame, kau tidak apa-apa?” tanyanya panik. Tabitha membuka tudung yang menutupi kepala Flame dan tampak wajah seorang perempuan berambut merah... tapi itu bukan Flame! Wanita itu adalah.... Shelly!



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Anda sopan, Sandslash pun segan...