Aku dan Melona kini telah berada di pesisir pantai pulau Pilar Langit. Penjelajahan kami di menara itu kini sudah berakhir dan kami merasa sangat puas dengan apa yang kami temukan di puncak menera. Bagaimanapun sekarang saatnya untuk kembali.“Lunar, aku akan kembali ke Pasifidlog,” kata Melona. “Aku akan mencari yang tersisa dari kotaku itu sambil memikirkan langkah selanjutnya. Seperti yang dikatakan Wallace, aku punya urusanku sendiri.” Melona lalu terdiam. Dia menundukkan kepalanya lalu mendongak melihatku. “Penginapan Bluesea sekarang sudah tidak ada lagi, jadi kau bukan lagi pelayanku, kau bukan lagi pegawaiku. Sekarang terserah padamu apa yang akan kau lakukan karena aku sudah tidak bisa memberimu pekerjaan lagi. Sandiwara kita pun berakhir disini. Maafkan aku Lunar.”
“Jangan meminta maaf,” sergahku. “Kau tidak membuat kesalahan apapun. Yang terjadi biarlah terjadi, jangan menyesalinya terus-menerus karena akan membuatmu tenggelam dalam kesedihan.” Kini aku yang menundukkan kepala dan mendongakkannya cepat seraya berbalik membelakangi Melona. “Kalau aku... kupikir aku akan kembali ke Verdanturf,” kataku kemudian sambil menatap langit biru di atasku. “Aku akan mengikuti saran Wallace untuk pergi ke Battle Frontier, tapi sebelum itu tentu aku harus membuat banyak persiapan.”
“Jadi sudah diputuskan?” tanya Melona memastikan. Aku mengangguk. “Kalau begitu kita berpisah disini Lunar,” kata Melona kemudian. “Aku pasti akan merindukan saat-saat bersamamu dulu... saat-saat mengelola penginapan bersamamu... itu adalah saat-saat terindah yang pernah kurasakan, aku berharap bisa mengalaminya lagi.”
Aku tersenyum mendengarnya. “Begitu pula denganku Melona, enam bulan ini adalah sebuah petualangan besar bagiku. Petualangan yang sangat berkesan, terima kasih banyak telah menerimaku sebagai pegawaimu. Bagiku kau adalah majikan terbaik yang pernah kumiliki.” Melona tersenyum simpul mendengar ucapanku itu. Aku lalu merogoh sakuku dan mengeluarkan sebuah PokeBall, meletakkannya dalam genggaman Melona. Melona tampak terkejut. Dia hendak mengeluarkan suara namun aku mendahuluinya. “Dulu kau memberikan Pokemon ini sebagai hadiah karena telah menyelamatkanmu, tapi kini kukembalikan Pokemon ini padamu,” kataku sambil menatap matanya lekat. “Anggaplah ini sebagai kenang-kenangan kita berdua lagipula kau yang lebih membutuhkannya saat ini.”
“Tapi Lunar aku...”
“Sekarang Obalie telah berubah menjadi Walrein, kau tidak perlu cemas lagi dengan bayangan Tim Aqua,” potongku. “Bagaimanapun Polar adalah Pokemonmu, dia lebih membutuhkanmu, bukan aku. Karena itulah, terimalah kembali Walrein dan rawatlah dengan baik. Ini akan mengingatkanmu padaku, pada semua kenangan yang telah kita rajut bersama di penginapan Bluesea. Aku yakin itu bisa menguatkanmu.”
Melona terdiam. Dia mengamati PokeBall dalam genggamannya, PokeBall berisi Pokemon yang pernah diberikannya kepadaku. Setelah beberapa detik Melona akhirnya tersenyum. Dia menatapku sambil mengangguk pelan. “Kau benar Lunar, Polar adalah Pokemonku, tak seharusnya aku mencampakkannya hanya karena dia pemberikan Shelly. Seharusnya aku merawatnya dengan baik dan harusnya aku senang karena Polar tidak jatuh di tangan orang jahat.Terima kasih Lunar, berikutnya biarkan aku yang melanjutkan merawat Polar. Dia akan menjadi Walrein terbaik, di tangan pelatih terbaik pula.”
Melona melemparkan PokeBall itu ke udara, memunculkan Polar, Walrein yang kini kembali menjadi miliknya. Didekatinya Pokemon itu dan dibelainya rambut putih dingin Walrein dengan lembut.“Maafkan aku Polar, maafkan aku telah pergi begitu saja,” bisiknya lirih. “Mulai sekarang kita akan kembali bersama dan bersenang-senang bersama.” Walrein sepertinya mengerti dengan apa yang diucapkan Melona. Pokemon bertaring besar itu mengangguk-anggukkan kepalanya dan mulai menjilati wajah Melona. Melona tampak tertawa geli saat Walrein menjilatinya. “Kau tidak berubah rupanya, masih suka menjilat seperti dulu,” kata Melona di sela-sela tawanya.
Aku senang melihat Melona kembali tertawa seperti dulu. Beban yang ditanggungnya sudah cukup berat, kupikir sudah seharusnya dia mendapatkan kebahagiaan. Tapi di satu sisi aku juga sedih karena akan berpisah dengan wanita yang telah memberikan warna di hatiku itu. Bagaimanapun setiap perjumpaan selalu bertemu dengan perpisahan, seharunya aku sudah terbiasa dengan hal ini tapi...
“Lunar, kau menangis?” tanya Melona saat menyadari aku menitikkan air mata.
“Tidak, aku hanya...ah...” aku tak kuasa menahan emosiku dan air mata jatuh bercucuran di pipiku yang langsung aku hapus dengan cepat. Serta merta kulemparkan Nest Ball memunculkan Solar dan langsung menaiki punggungnya. “Melona, aku pergi sekarang,” kataku dengan suara berair. “Sampai jumpa lagi dan... selamat tahun baru...”
“Selamat tahun... baru,” balas Melona terheran dengan sikapku. Tapi kemudian dia tersenyum seolah memahami apa yang terjadi padaku. “Lunar, jaga dirimu baik-baik. Pastikan kau tidak membakar lenganmu lagi.”
“Tentu Melona, itu tidak akan terjadi lagi... Jaga dirimu baik-baik...”
Berikutnya Solar bergerak terbang membawaku melayang pergi dari Pilar Langit. Tapi di udara pun aku masih tak bisa menguasai emosiku. Air mata kembali jatuh bercucuran tertiup angin laut yang kencang.Tanpa kutahu setetes air mata jatuh dan menerpa pipi Melona yang masih berdiri memandangi kepergianku. Disana Melona tersenyum lalu bergerak menaiki Polar.
“Lunar Servada... kita pasti akan merindukan nama itu... benar bukan Polar?” katanya pada Polar. Polar mengangguk dan berikutnya bersama Melona di punggungnya, Pokemon itu mulai berenang memasuki lautan berombak di depannya....
BAB XLVIII Pilar Langit
Selesai
Selesai
Keterangan Alih Bahasa
~Pilar Langit: Sky Pillar
~Pulau Ilusi: Mirage Island
~Menara Ilusi: Mirage Tower
~Keracunan: Poisoned
~Putaran Cepat: Rapid Spin
~Ombak: Surf
~Gigitan: Bite
~Sayatan: Slash
~Galian: Dig
~Luncuran Batu: Rock Slide
~Daun Ajaib: Magical Leaf
~Terbang: Fly
~Tarian Naga: Dragon Dance

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Anda sopan, Sandslash pun segan...