SELAMAT MEMBACA!!!

Protected by Copyscape plagiarism checker - duplicate content and unique article detection software.

Kini blog ini fokus menayangkan fanfic Pokemon terpopuler di Indonesia, Servada Chronicles karangan L. Maulana atau yang akrab dipanggil Elite Four L.

PERHATIAN!
Sebagian gambar dan materi dalam blog ini diambil dari internet sementara sebagian lagi murni buatan Elite Four L. Elite Four L tidak akan mengklaim materi yang bukan miliknya. Dilarang mengkopi artikel dalam blog ini tanpa izin dari Elite Four L. Terima kasih.

Nama-nama dan karakter Pokemon adalah hak cipta dari Nintendo, GameFreak, Creatures Inc., dan Pokemon Company. Servada Chronicles adalah hak cipta L. Maulana / Elite Four L.

Senin, 01 Februari 2010

L's Diary: Eps. 31 - Ozora Menghadang

wooper gifEpisode 31: Ozora Menghadang


Aku dan Badut telah berada di luar laboratorium dan sekarang berlari ke arah tempat helikopter yang kami naiki sebelumnya. Namun saat kami tengah berlari, tiba-tiba saja api menjalar di depan kami yang memaksa kami untuk berhenti.

”Kalian mau kabur ya?” tiba-tiba terdengar suara laki-laki. Cepat saja bagi kami untuk mengetahui dari mana asal suara tersebut. Rupanya seorang laki-laki berdiri menghadang kami dengan seekor Salamence, Pokemon naga bersayao merah di sampingnya. Api yang tersisa di rerumputan membuat kami bisa melihat wajah lelaki itu.

”Siapa kamu dan apa maumu?” sentak Badut.

”Seharusnya aku yang bertanya begitu,” sahut lelaki itu. ”Apa yang kalian lakukan di laboratorium itu. Kulihat kalian baru saja mencuri ya?”

”Jangan ikut campur! Ini urusan kami,” ujar Badut ketus.

”Ho, tentu saja aku tak bisa diam saja melihat tindak kejahatan terjadi,” balas lelaki itu. ”Namaku Ozora, dan aku akan menghentikan aksi kalian!”

”Jadi kamu menantang kami, hei Gozira?” sahut Badut. ”Baiklah, kalau itu maumu. Kami akan meladeni dengan cepat karena jujur saja kami sudah tak ada waktu berurusan denganmu.”

”Maaf, tapi namaku Ozora, bukan Gozira,” Reiji mengoreksi.

”Terserah!” Badut sudah akan melemparkan pokeballnya, namun aku mencegahnya terlebih dahulu. ”L, jangan cegah aku! Aku ini sedang kesal!”

”Badut, jangan bodoh,” sahutku. ”Electabuzz milikmu telah lumpuh akibat statik dari Porygon2 tadi. Lebih baik kau sembuhkan dia sementara aku meladeninya bertarung. Bagaimana?”

”Benar juga. Baiklah, kuserahkan padamu L.”

Aku tersenyum mendengarnya. Aku pun mengeluarkan pokeball-ku dan dengan cepat melemparkannya. ”Keluarlah Sandslash!” Sandslash, pokemon pertamaku yang telah membantuku merebut penelitian Sammon pun muncul.

“Salamence milikku akan menghempaskannya dengan cepat,” kata Reiji melihat aku mengeluarkan Sandslash. ”Sandslash itu kan Pokemon yang lemah dan jarang dipakai, pasti mudah mengalahkannya.”


“Aku tak peduli, Sandslash gunakan serangan menyayat!” Sandslash meluncur cepat ke arah Salamence. Dia melompat dan bersiap menyayat Salamence. Terus terang saja, aku tak ada ide untuk menghadapi Pokemon setangguh Salemence.

Sandslash berhasil menyayat Salemence, tapi tampaknya itu tak berpengaruh apa-apa pada Salamence.

“Hahahaha... serangan menyayat katamu? Bodoh sekali. Biar aku habisi dia dengan satu kali serangan. Salemence, nafas naga!” Salamence lalu menyemburkan api yang cukup besar dari hidungnya ke arah Sandslash. Sandslash tampak berusaha menahan serangan tersebut. Meskipun Sandslash sudah terbiasa dengan cuaca panas di gurun pasir saat dia masih menjadi Sandshrew, tetap saja dia kewalahan menghadapi serangan panas yang intens seperti nafas naga Salamence. Akhirnya Salamence terjatuh juga setelah berusaha keras menahan serangan itu. ”Hahaha...kubilang juga apa.”

Aku tahu ini akan terjadi, tapi paling tidak ini akan mengulur waktu sampai Badut selesai mengobati Electabuzz-nya. Aku sengaja tidak menggunakan Ninjask karena dia pasti akan segera terkapar bila menghadapi Salamence meskipun Ninjask memiliki kemampuan peningkatan kecepatan.

”Salamence, habisi sekarang! Meteor Draco!” tiba-tiba saja bebatuan meteor jatuh dari langit dan dengan kerasnya menghantam tubuh Sandslash. Sandslash tampak kesakitan dan kemudian pingsan.

”Sandslash, kembali!” aku mengembalikan Sandslash ke dalam pokeball dan bersamaan dengan itu Electabuzz maju menghadapi Salamence.

”Kini, aku akan meladenimu bocah sombong!” gertak Badut dengan sangat bersemangat.

”Huh, Electabuzz milikmu pun akan bernasib sama dengan Sandslash,” Ozora balas menggertak. ”Salamence, semburan api!” Salamence menyemburkan api yang sangat panas ke arah Electabuzz. Electabuzz kesakitan, namun dia masih tetap berdiri.

”Electabuzz, serangan cepat!” Electabuzz bergerak dengan cepat menerjang ke arah Salamence namun serangan itu hanya menghentak Salamence saja. Pertahanan Salamence memang benar-benar bagus.

”Serangan apa itu?” ledek Ozora. ”Sekarang, Salamence gunakan cakaran naga!” Salamence menyerbu Electabuzz dan mengayunkan kedua cakarnya bergantian ke arah Electabuzz. Lagi-lagi Electabuzz kesakitan. Serangan itu cukup menyakitkan dan mungkin satu kali serangan lagi Electabuzz akan kalah.

”Badut, sekarang bagaimana?” tanyaku cemas. Tentu saja aku cemas. Bayangkan saja kalau sampai kami kalah, maka kami akan gagal membawa penelitian ini ke markas.

”Tenang saja L, aku bisa mengatasinya,” sahut Badut tenang, walaupun aku bisa mendengar kekhawatiran dalam nada suaranya.

”Tapi Electabuzz kan...”

”Iya, aku mengerti. Electabuzz terdesak, namun aku akan memenangkan pertarungan ini. Kalau seperti ini aku terpaksa menggunakan kemampuan manusia Pokemonku,” potong Badut.

”Kemampuan manusia Pokemon? Apa itu?” tanyaku tak mengerti.

Badut terdiam. Dia tersenyum dan tampaknya dia memiliki sebuah rencana yang bagus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anda sopan, Sandslash pun segan...