SELAMAT MEMBACA!!!

Protected by Copyscape plagiarism checker - duplicate content and unique article detection software.

Kini blog ini fokus menayangkan fanfic Pokemon terpopuler di Indonesia, Servada Chronicles karangan L. Maulana atau yang akrab dipanggil Elite Four L.

PERHATIAN!
Sebagian gambar dan materi dalam blog ini diambil dari internet sementara sebagian lagi murni buatan Elite Four L. Elite Four L tidak akan mengklaim materi yang bukan miliknya. Dilarang mengkopi artikel dalam blog ini tanpa izin dari Elite Four L. Terima kasih.

Nama-nama dan karakter Pokemon adalah hak cipta dari Nintendo, GameFreak, Creatures Inc., dan Pokemon Company. Servada Chronicles adalah hak cipta L. Maulana / Elite Four L.

Minggu, 01 April 2012

L's Diary: Eps.374 - Melawan Lavender

PhotobucketEpisode 374. Melawan Lavender

Selamat datang di Frontier Festival!” terdengar suara Flame membahana di seantero Battle Dome. “Dalam pertarungan fase grup kali ini, mempertemukan trainer hebat yang pastinya membuat kalian semua bosan karena terus-menerus melihatnya disini… si Pincang dari kota Verdanturf!”
“Yeee! Pincang! Pincang!” langsung saja suara penonton terdengar begitu keras meneriakkan namaku. Aku sendiri sudah berdiri di posisiku, bersiap menghadapi gadis berambut hitam panjang di seberangku sana…
Dan lawan yang akan dihadapinya adalah…” sambung Flame. “Seorang gadis trainer muda berbakat dari provinsi Sinnoh… Lavender Celeste!
Sambutan penonton pada Lavender tidak jauh berbeda dengan sambutan untukku. Para penonton begitu bersemangat saat mendengarnya. Tampaknya kehadiran Lavender telah mendapat tempat tersendiri di hati para penonton.
“Itu karena Henry,” kata seorang penonton berbisik. Tunggu sebentar… berbisik? Kalau berbisik kok aku bisa dengar ya?
“Henry? Memangnya dia kenapa?” Tanya yang lainnya.
“Dia sangat mengharapkan kekasihnya itu menang… padahal kekasihnya itu payah sekali… Dia lolos babak kualifikasi saja itu sudah untung banget…”
“Oh ya? Wah, kasihan sekali ya Henry…”
“Apalagi sekarang yang dihadapi adalah si Pincang… wuih, pasti gadis akan kalah telak, yakin deh sumpah…”
Walah, ada juga ya obrolan seperti itu di antara para penonton? Berarti para penonton Frontier Festival benar-benar penonton berkelas yang sangat memerhatikan detil pertarungan. Kalau seperti ini aku jadi semakin bersemangat. Tapi untuk kali ini, aku akan sedikit mengendurkan syarafku. Aku tentunya akan menang, tapi akan kubuat Lavender terlihat kuat… aku tak mau mengecewakan pasangan kekasih itu.
“Lavender, bersemangat!” teriak seorang lelaki keras sekali. Aku menoleh ke arah orang itu yang ternyata adalah Henry. Dia tampak begitu antusias berdiri di barisan depan tepian arena. “Lavender, CHAYOOO!!! Kamu pasti bisa menang!”
Wow… melihat semangat itu membuatku jadi semakin ingin mengendurkan kemampuanku. Baiklah, apa salahnya mencoba gaya bertarung baru yang lebih menantang… kupikir.
Pertarungan Lunar Servada melawan Lavender Celeste… DIMULAI!” pekik Flame memberi aba-aba dimulainya pertarungan kami. Aku pun langsung mengeluarkan PokeBall, senada yang dilakukan oleh Lavender. Kami sama-sama melemparkan PokeBall kami dan mengeluarkan Pokemon kami masing-masing.
“Majulah… Treasure!”
“Majulah… Gardevoir!”
Aku mengeluarkan Cradily jagoanku sementara Lavender mengeluarkan Pokemon menyerupai wanita cantik bernama Gardevoir. He? Itu Pokemon atau manusia? Kok cantik banget? Langsung aja kubuka PokeDexku untuk membaca datanya.


Gardevoir, Pokemon pengayom, bertipe sihir.
Pokemon ini memiliki kemampuan meramalkan masa depan. Dia tidak segan-segan mengorbankan hidupnya untuk melindungi pelatihnya.

Wow… Pokemon yang rela mengorbankan hidupnya demi melindungi pelatihnya? Wah… aku iri! Aku mesti punya satu!

*

Beberapa menit kemudian…

BRAKKK!
Treasure terjatuh dengan keras ke tanah. Serangan Gardevoir Lavender mendarat telak di tubuhnya. Para penonton yang melihatnya langsung terperangah.
“Wut? Ini tidak bisa dipercaya!” penonton tampak terkejut melihat Cradilyku jatuh terkalahkan oleh Gardevoir.
“Kembalilah Treasure!” pekikku memasukkan kembali Treasure ke dalam Pokeball. Aku lalu mengeluarkan PokeBall lainnya dan melemparkannya ke udara. “Mangrove, aku memilihmu!” Mangrove, Wooper pemberian kak Lydia itu muncul di arena menggantikan Treasure.
“Wooper? Apa dia tidak salah memilih?” komentar seorang penonton tercengang.
“Aku yakin sekali si Pincang salah ambil PokeBall,” komentar yang lain.
“Tapi kalau dia salah mengambil, kenapa dia menyebutkan nama Pokemonnya dengan benar?”
Mendengar bisik-bisik penonton itu aku hanya tersenyum kecil. Kulihat Lavender tampak tersenyum senang di seberang sana, dengan Henry tak henti-hentinya meneriakkan kata-kata penyemangat yang semakin intens setelah Cradilyku terkalahkan. Well, kuturuti permintaan Lavender untuk mengalah agar Henry senang… akan tetapi entah kenapa aku melihat sesuatu yang aneh pada senyum Lavender…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anda sopan, Sandslash pun segan...